Meski ada yang bersifat
bawaan, kelainan ginjal tidak selalu bisa terdeteksi sejak anak berada dalam
kandungan. Ada yang baru terdeteksi sewaktu bayi, kala balita, bahkan ketika
sudah duduk di bangku SD. Mengapa bisa demikian?
Tak lain karena kecurigaan yang biasanya diikuti dengan berbagai pemeriksaan
baru akan dilakukan bila anak mengalami keluhan atau memperlihatkan tanda-tanda
yang mengarah ke sana.
Menurut dr. Endang Lestari, S.pA dari RSAB Harapan Kita, Jakarta, kelainan
ginjal bawaan dibedakan menjadi 2 jenis, yakni:
• Uropati kongenital berupa kelainan yang mengenai saluran-saluran yang
terdapat di antara saluran kemih dan kandung kemih. Kelainannya meliputi
infeksi saluran kemih, sumbatan di saluran kemih/kandung kemih, lemahnya klep
antara kandung kemih dan saluran kemih.
• Nefropati kongenital berupa kelainan dari saluran kemih bagian atas hingga
ginjal. Di antaranya ginjal kecil, ginjal bengkak, ginjal hanya satu,
pertumbuhan ginjal tidak sempurna, kista pada ginjal dan hipoplasia.
KEMUNGKINAN PENYEBAB
Lebih lanjut, Endang menjelaskan beberapa faktor yang menjadi penyebab
munculnya kelainan ginjal bawaan:
• Genetik
Walau persentasenya kecil, kelainan ginjal bawaan bisa saja karena faktor
keturunan. Contohnya, ayah atau kakek-nenek yang memiliki kelainan ginjal bisa
menurunkan gangguan/kelainan sejenis pada anak-cucu. Bentuk kelainannya bisa
berupa pembengkakan ginjal, ginjal yang tak berkembang semestinya, atau hanya
punya satu ginjal.
• Hamil di usia rawan
Yang termasuk dalam kategori ini adalah para ibu yang hamil di atas usia 40
tahun atau sebaliknya usia ibu masih terlalu muda saat hamil, yakni 17 tahun
atau malah lebih muda. Kehamilan di usia rawan sangat memungkinkan janin
mengalami pertumbuhan yang kurang optimal selagi dalam kandungan.
• Obat-obatan
Itulah mengapa tak henti-hentinya diserukan untuk berhati-hati mengonsumsi obat
selama hamil. Terutama jenis antibiotika atau obat-obatan antikanker.
Sederhananya, jangan pernah mengonsumsi obat tanpa sepengetahuan dokter.
• Radiasi
Faktor radiasi yang dimaksud di sini adalah bila si ibu terpapar X-Ray. Itulah
mengapa di ruang radiologi untuk pemeriksaan rontgen jelas-jelas
terpampang larangan bagi perempuan yang tengah hamil.
BAGAIMANA MENDETEKSINYA?
Hidup di zaman yang serbacanggih dan modern seperti sekarang ini tentu saja
memberi banyak kemudahan. Salah satunya, kata Endang yang merupakan dokter anak
subspesialisasi nefrologi, teknologi dan ilmu pengetahuan kedokteran yang sudah
sedemikian maju sehingga memungkinkan untuk mendeteksi kelainan ginjal bawaan
sejak dini. Selagi masih dalam kandungan (tepatnya di trimester ketiga), dengan
bantuan USG dokter bisa menemukan kecurigaan adanya kelainan/gangguan pada
ginjal dan sistem kemihnya. Pada pembengkakan ureter, salah satu atau kedua
ginjal janin tampak membesar.
Pada beberapa kasus, misalnya hidronefrosis, ada beberapa dokter yang berani
melakukan tindak penanganan saat bayi masih dalam kandungan. Meski biasanya
tindakan baru dilakukan oleh dokter ginjal anak setelah bayi lahir.
USG umumnya digunakan untuk memastikan kondisi ginjalbayi. Setelah itu barulah
dilakukan tindakan yang disesuaikan berdasarkan kondisi yang ditemui. Apakah
lewat operasi, terapi, atau penyedotan cairan saja. Sayangnya, ada juga
gangguan ginjal bawaan yang tidak terdeteksi saat di dalam kandungan. Gangguan
ini umumnya baru terdeteksi sesudah si bayi lahir dengan memperlihatkan
tanda-tanda, di antaranya 2 hari tidak BAK, kesulitan kencing, atau ada
benjolan di samping kanan/kiri perutnya. Jika menemukan ciri-ciri tersebut
biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut atau merujuk ke dokter
anak yang mendalami ginjal guna mendapat pemeriksaan dan penanganan semestinya.
Sementara pada usia balita, kelainan ginjal bawaan umumnya baru bisa terdeteksi
saat anak menunjukkan gejala. Di antaranya sakit kala kencing, kencingnya
sedikit-sedikit, kencingnya keruh, atau keluhan kencing yang dibarengi dengan
naiknya suhu tubuh. Sebagai penanganan pertama biasanya akan diberi obat untuk
tenggang waktu 2 minggu. Jika gejala-gejala menghilang berarti tidak ada
masalah berarti. Namun perlu dicermati dengan saksama bila gejala serupa muncul
kembali beberapa hari kemudian, atau meski sudah diobat kondisinya tak kunjung
membaik. Yang bersangkutan perlu penanganan spesifik berupa pemeriksaan ginjal
untuk mengetahui apakah ada penyumbatan, mengalami pengecilan, atau ada
tidaknya infeksi ginjal.
Sementara pada usia sekolah, anak dicurigai mengalami kelainan ginjal bawaan
kalau anak mengeluh perutnya sering sakit. Dari keluhan yang terlalu sering ini
biasanya dokter akan melakukan USG. Nah, dari pemeriksaan inilah akan terlihat
apakah anak memiliki dua ginjal sebagaimana mestinya atau mungkin malah hanya
satu.
Kista pada ginjal juga merupakan kasus kelainan ginjal bawaan yang sering
terdeteksi di usia sekolah tanpa sengaja. Misalnya saat melakukan pemeriksaan
untuk penyakit lain, kebetulan terdeteksi ada kista pada ginjalnya. Menurut
Endang, jika kistanya besar akan diambil, tapi jika kecil akan dibiarkan selama
tidak menimbulkan masalah.
Bentuk kelainan/gangguan berikutnya adalah adanya sumbatan pada saluran kemih
akibat kelainan ginjal bawaan. Entah itu sumbatan antara saluran kemih dengan
ginjal ataupun saluran kemih dengan kandung kemih.
Kondisi ini biasanya terdeteksi kala anak mengalami infeksi saluran kemih.
Seseorang yang mengalami infeksi saluran kemih biasanya akan mengalami beberapa
gejala berikut, di antaranya perut bagian bawah sering terasa sakit, air seni
berwarna keruh, anyang-anyangan (kencing sedikit-sedikit disertai perasaan
tidak enak), sakit sewaktu buang air kecil atau keluhan lainnya, disertai demam
tinggi yang tiada kunjung mereda meski sudah diberi obat penurun panas.
Semua keluhan tadi, kata Endang, bila bisa teratasi dengan obat, berarti bukan
kelainan ginjal bawaan. Sebaliknya, jika sudah diobati tidak kunjung membaik
atau sembuh namun beberapa hari kemudian kambuh kembali, tidak bisa dipungkiri
lagi yang bersangkutan mengalami kelainan ginjal bawaan. Jadi, antara yang
bawaan dan bukan bawaan memang tipis sekali perbedaannya.
TAK MESTI OPERASI
Dalam kasus kelainan ginjal bawaan, penanganannya akan dilakukan secara
bertahap. Pertama, menangani komplikasinya dulu. Jika ada infeksi saluran
kemih, infeksinya akan segera diatasi sambil dicari terus apa penyebabnya.
Kedua, setelah penyebabnya ditemukan tentu langkah selanjutnya adalah tindakan
untuk menangani penyebabnya. Bila akibat sumbatan, tentu akan diupayakan untuk
menghilangkan sumbatan tersebut. Begitu juga kalau disebabkan oleh klep di
kandung kemih yang tidak baik, akan dibuatkan klep baru.
Demikian pula jika menemukan permasalahan lain. Yang pasti tidak selamanya
kelainan ginjal bawaan harus dituntaskan di meja operasi. Logikanya, bila masih
bisa ditangani dengan cara/terapi nonbedah, kenapa harus memilih jalur operasi
yang jelas-jelas tidak murah. Contohnya, masalah refluks akibat kurang
berfungsinya klep di kandung kemih.
Kelainan stadium 1 atau 2 biasanya bisa ditangani dengan obat. Selama proses
pengobatan diharapkan terjadi proses pematangan/penyempurnaan klep tersebut
secara alamiah. Nah, seiring bertambahnya usia anak dan selesai pula terapi
obat tadi, dokter akan mengevaluasi kembali.
Jika penanganannya terlambat dan kurang tepat hingga infeksinya menjadi parah,
besar kemungkinan anak akan mengalami gagal ginjal. Kalau sudah begini tidak
ada cara lain kecuali harus menjalani transplantasi ginjal atau cuci darah
(hemodialisis).
Baik dialisis yang dilakukan dengan bantuan mesin khusus di rumah sakit maupun
peritonial dialisis (cuci darah melalui perut) yang bisa dilakukan mandiri di
rumah secara berkala setiap beberapa jam sekali. Sebaliknya, jika sejak awal
mendapat penanganan cepat dan infeksinya segera diatasi, ke depannya anak
dengan kelainan ginjal dapat hidup normal tanpa keluhan apa pun.
informasi kesehatan penting lainnya
Thursday, July 31, 2014
carsinoma buli
PENDAHULUAN
Dewasa ini penggunaan
pemeriksaan radiologi kian meningkat. Begitupun dalam penggunaannya sebagai
alat bantu diagnosa sekaligus terapi pada kelainan – kelainan traktus
urinarius. Berbagai kelainan baik kongential maupun didapat dalam sistem ini
dapat diperiksa dengan bantuan radiologi melalui beberapa macam pemeriksaan
yaitu, Foto Polos Abdomen (FPA), Ultrasonografi (USG), IntraVenous
Pyelography/Urografi IntraVena (IVP/UIV), Retrograde Pyelography (RPG),
Antegrade Pyelography (APG), urografi retrograde, CT Scan, sampai Nuclear
Magnetic Resonance. Dengan macam–macam pemeriksaan ini dapat diketahui adanya
anomali ginjal, massa
pada traktus urinarius, peradangan, dilatasi traktus urinarius, sampai pada
penilaian fungsi ekskresi dan kerusakan struktur ginjal.
Hidronefrosis dan
hidroureter diartikan sebagai dilatasi pada kaliks ginjal dan ureter. Kasus
hidronefrosis dan hidroureter semakin sering didapati. Di Amerika Serikat,
insidensinya mencapai 3,1 %, 2,9 % pada wanita dan 3,3 % pada pria. Penyebabnya
dapat bermacam – macam dimana obstruksi merupakan penyebab yang tersering.
Keganasan pada vesika
urinaria menempati urutan kedua setelah keganasan prostat. Penyebabnya dapat
bermacam – macam dan tersering adalah akibat faktor pekerjaan.
Artikel ini akan membahas
mengenai pemeriksaan radiologi pada kasus dengan diagnosa hidronefrosis,
hidroureter dan suspek keganasan vesika urinaria.
SEKILAS TENTANG
ANATOMI TRAKTUS URINARIUS
Ginjal
berbentuk oval, terletak retroperitoneal di dinding posterior abdomen, setinggi
vertebra Torak 12 – Lumbal 3. Ginjal kanan biasanya terletak lebih bawah dari
ginjal kiri karena ukuran hepar kanan yang besar. Ginjal kanan dipisahkan
dengan hepar kanan oleh fleksura hepatorenal. Ginjal kiri berhubungan dengan
lambung, limpa, pankreas, yeyunum, dan kolon desenden. Pada cekungan batas
medial ginjal terdapat hilus renal. Terdapat tiga bangunan yang melewatinya
yaitu arteri renalis, vena renalis, dan pelvis renalis. Vena renalis terletak
di anterior arteri renalis yang juga berada di anterior pelvis renalis. Hilus
renalis merupakan pintu masuk ke dalam struktur ginjal yang disebut sinus
renalis yang terdiri dari pelvis renalis, kalises, pemuluh darah, saraf, dan
lemak. Ginjal memiliki permukaan antrior dan posterior, batas lateral dan
medial, polus superior dan inferior.
Ureter
merupakan sebuah saluran dengan dinding berupa lapisan otot, panjang 25 – 30
cm, terletak retro peritoneal yang menghubungkan ginjal dengan vesika urinaria.
Bagian superiornya terletak di rongga abdomen dan memasuki rongga pelvis
melewati pelvis. Bagian pelvik dari ureter berawal letika ureter menyilang
bifurctio arteri iliaka komunis. Ureter berjalan posteroinferior dinding
lateral pelvis, anterior dari arteri iliaka interna, dan eksternal dari
peritoneum perietal pelvis. Ureter berjalan memasuki vesika urinaria setelah
melingkar anteromedial, superior dari muskulus levator ani. Ureter berjalan
secara oblik di dalam dinding otot vesika urinaria. Pintu masuknya memberi
kontur seperti valvula flap yang akan akan bertindak seperti sfingter bila otot
vesika urinaria berkontraksi untuk mencegah refluks urin.
Vesika urinaria
merupakan sebuah kantong dengan dinding berupa lapisan otot yang tebal dan
memiliki karakteristik dapat berdistensi. Dalam keadaan kosong, vesika urinaria
terletak di dasar panggul, posterosuperior dari os pubis, dipisahkan oleh ruang
retropubik. Vesika urinaria terletak relatif bebas dalam jaringan lemak
subkutan keculai bagian lehernya yang pada wanita difiksasi oleh ligamentum
pubovesikalis, dan ligamentum puboprostatika pada laki – laki. Dalam keadaan
kosong, bentuknya menyerupai segi emapt tak beraturan yang terdiri dari apeks,
corpus, fundus, leher, dan uvula.
PEMERIKSAAN
RADIOLOGIS TRAKTUS URINARIUS
Pada setiap pemeriksaan
traktus urinarius sebaiknya diawali dengan pembuatan foto polos abdomen
(FPA). Yang harus diperhatikan disini adalah kontur, ukuran, dan
posisi kedua ginjal. Dapat pula dilihat kalsifikasi dalam kista dan tumor, batu
radioopak dan perkapuran dalam ginjal. Interpretasi terhadap kalsifikasi
saluran ginjal harus dilakukan secara hati – hati karena phlebolit dalam
kelenjar mesenterika dan vena pelvis sering disalahartikan sebagai batu ureter.
Pemeriksaan UIV
akan menghasilkan sebuah gambaran yang disebut dengan pielogram. Pada pielogram
normal, akan didapatkan gambaran bentuk kedua ginjal seperti kacang. Kutub atas
ginjal kiri setinggi vertebra Th11, batas bawahnya setinggi korpus vertebra L3.
Ginjal kanan letaknya kira – kira 2 cm lebih rendah daripada yang kiri. Pada
pernafasan, kedua ginjal bergerak, dan pergerakan ini dapat dilihat dengan
fluoroskopi. Arah sumbu ke bawah dan lateral sejajar dengan muskuli psoas kanan
dan kiri. Dengan adanya lemak perirenal, ginjal menjadi lebih jelas terlihat.
Hal ini terutama dapat dilihat pada orang gemuk. Pelvis renis lalu dilanjutkan
dengan kalik mayor, biasanya berjumlah 2 buah. Dari kalik mayor dilanjutkan
dengan kalik minor yang jumlahnya antara 6 – 14 buah. Kedua ureter berjalan
lurus dari pelvis renis ke daerah pertengahan sakrum dan berputar ke belakang
lateral dalam suatu arkus, turun ke bawah dan masuk ke dalam dan depan untuk
memasuki trigonum vesika urinaria. Tiga tempat penyempitan ureter normal adalah
pada ureteropelvical junction, ureterovesical junction, dan persilangan
pembuluh darah iliaka.
Pemeriksaan USG
ginjal merupakan pemeriksaan yang tidak invasif. Sebelum pemeriksaan, pasien
dipuasakan untuk meminimalkan gas di usus yang dapat menghalangi pemeriksaan.
Penilaian UIV sangat dibutuhkan untuk menetukan posisi ginjal dan daerah yang
perlu dinilai lebih lanjut. Fokus transduser yang digunakan sekitar 5 cm, 2,5 –
3,5 MHz cukup memadai. Lakukan irisan transversal untuk menentukanlokasi aksis
ginjal, diikuti dengan irisan – irisan longitudinal, bila perlu gunakan
magnifikasi. Ginjal turut bergerak pada pernapasan, sehingga pasien diminta
untuk menahan napas pada inspirasi dalam. Penilaian kutub atas ginjal paling
baik dengan sektor transduser melalui celah iga. Ginjal kanan dapat diperiksa
dengan pasien pada posisi supine, left lateral decubitus, dan pronasi.
Sementara untuk ginjal kiri, digunakan posisi right lateral decubitus dan
pronasi. Posisi supine tidak dianjurkan untuk memeriksa ginjal kiri karena
gambaran ginjal terganggu oleh gambaran udara lambung dan usus. Sonic window
yang digunakan adalah otot perut belakang dan posterolateral serta celah iga.
Pada ginjal kanan, hepar juga digunakan sebagai sonic window, sedangkan pada
ginjal kiri yang dipakai adalah lambung yang berisi air.
USG dapat memberikan
keterangan tentang ukuran, bentuk, letak, dan struktur anatomi dalam ginjal.
Ukuran ginjal normal berkisar antara:
·
ginjal kanan : 8 – 14 cm
·
ginjal kiri : 7 – 12 cm
Diameter anteroposterior
rata – rata 4 cm dan diameter melintang rata – rata 5 cm. Lemak perirenal
tampak sebagai lapisan yang berdensitas tinggi mengelilingi sisi luar ginjal.
Sementara parenkim ginjal terdiri atas korteks dan medula. Eko parenkim ginjal
relatif lebih rendah dibandingkan dengan eko sinus ginjal. Medula dan korteks
dapat jelas dibedakan. Pada keadaan normal, eko korteks lebih tinggi daripada
eko medula, yang relatif lebih hiperekoik. Tebal parenkim ginjal normal hampir
merata, di bagian tengah 1 – 2 cm dan di bagian kutub 2 – 3 cm. Tebal parenkim
ginjal dibandingkan tebal sinus ginjal kira – kira 1 : 2. Piramis medula berisi
lebih banyak cairan daripada korteks sehingga terlihat lebih hipoekoik,
berbentuk segitiga, dengan basis di korteks dan apeksnya di sinus. Eko sinus
ginjal juga dikenal sebagai central pelvicaliceal echo complex, terlihat
sebagai daerah hiperekoik di bagian tengah ginjal. Hal ini disebabkan karena di
sekitar pelvis, infundibulum, dan kalises sebagian besar terdiri dari lemak.
CARSINOMA BULI,
KOMPLIKASI, DAN GAMBARAN RADIOLOGISNYA
Setelah carsinoma prostat,
vesika urinaria merupakan tempat tersering pada keterlibatan proses neoplastik
saluran kemih.3 Jenis yang tersering adalah carsinoma sel
transisional. Penyebabnya antara lain pajanan amin aromatik dari industri
(anilin, karet, huli), asap rokok, infeksi kronis oleh Schistosoma haematobium dan
proses peradangan kronis akibat batu yang dapat menyebabkan carsinoma sel
skuamosa.1,2 Gambaran klinis biasanya berupa hematuri tanpa rasa
sakit dan obstruksi.
Penampakan carsinoma
vesika urinaria dapat berupa defek pengisian pada vesika urinaria yang
terisi kontras atau pola mukosa yang tidak teratur pada film kandung kemih
pascamiksi. Jika urogram intravena menunjukkan adanya obstruksi ureter, hal
tersebut lebih menekankan pada keterlibatan otot – otot di dekat orifisium
ureter dibandingkan obstruksi akibat massa
neoplasma yang menekan ureter. CT atau MRI bermanfaat dalam penilaian
praoperatif terhadap penyebab intramural dan ekstramural, invasi lokal,
pembesaran kelenjar limfe, dan deposit sekunder pada hati atau paru.
Hidronefrosis
diartikan sebagai suatu kondisi dimana pelvis dan kalises ginjal berdilatasi,
sedangkan definisi hidroureter merupakan dilatasi atau
pelebaran dari ureter. Penyebab tersering dari kedua kondisi ini sebagian besar
adalah obstruksi.2 Kelainan lain yang dapat menjadi penyebab adalah
striktur, penyimpangan pembuluh darah dan katup, tumor, batu, ataupun lesi di
medulla spinalis. Hidronefrosis dapat bervariasi dari yang ringan
misalnya hidronefrosis akibat kehamilan sampai yang dapat mengancam nyawa
misalnya pionefrosis. Untuk dapat membedakan kondisi akut dari kronis, secara
garis besar dapat dilihat dari gangguan anatomik parenkim ginjal yang minimal.
Sementara untuk lebih tepatnya, suatu hidronefrosis dapat dikatakan akut
apabila terdapat pengembalian fungsi ginjal secara utuh setelah penyebabnya
dihilangkan. Sedangkan dikatakan kronis bila setelah penyebabnya dihilangkan,
fungsi ginjal tidak kembali normal.
Patofisiologi terjadinya
hidronefrosis dan hiroureter diawali dengan adanya hambatan aliran urin secara
anatomik ataupun fisiologik. Hambatan ini dapat terjadi dimana saja sepanjang
ginjal sampai meatus uretra. Peningkatan tekanan ureter menyebabkan perubahan
dalam filtrasi glomerulus (GFR), fungsi tubulus, dan aliran darah ginjal. GFR
menurun dalam beberapa jam setelah terjadinya hambatan. Kondisi ini dapat
bertahan selama beberpa minggu. Fungsi tubulus juga terganggu. Berat dan durasi
kelainan ini tergantung pada berat dan durasi hambatan aliran. Hambatan aliran
yang singkat menyebabkan kelainan yang reversibel sedangkan sumbatan kronis
menyebabkan atrofi tubulus dan hilangnya nefron secara permanen. Peningkatan
tekanan ureter juga aliran balik pielovena dan pielolimfatik. Dalam duktus
kolektivus, dilatasi dibatasi oleh parenkim ginjal. Namun komponen diluar
ginjal dapat berdilatasi maksimal.
Pada urogram,
hidronefrosis dini memberikan gambaran kalik – kalik yang mendatar
(flattening). Sementara pada keadaan lanjut, memperlihatkan kalik – kalik
berupa tongkat (clubbing). Pada tingkat yang lebih parah terjadi destruksi
parenkim dan pembesaran traktus urinarius, kompresi papila, penipisan parenkim
di sekitar kalises, dan dapat terjadi atrofi korteks yang berjalan progresif
dan akhirnya terbentuk kantung hidronefrotik (balloning).
Sementara pada USG,
derajat hidronefrosis terbagi menjadi tiga. Hidronefrosis ringan memberikan
gambaran hipoekoik di bagian tengah ginjal. Pada hidronefrosis sedang terlihat
pelebaran peilokalikises yang sama baiknya seperti pada urografi. Sedangkan
pada hidronefrosis berat tampak kalises berupa suatu zona bebas eko yang
lobulated, parenkim ginjal tidak jelas lagi.
TERAPI
Tindakan
yang pertama dilakukan pada pasien carsinoma buli-buli adalah reseksi bulu-buli
transuretra atau TUR buli-buli. Pada tindakan ini dapat sekaligus ditentukan
luas infiltrasi tumor. Terapi selanjutnya tergantung pada stadiumnya.5
Alternatif Terapi Setelah TUR Buli-buli
|
Stadium
|
Tindakan
|
|
Superfisial
(stadium 0 – A) |
TUR
Buli/fulgurasi
Instilasi intravesika |
|
Invasif
(stadium B-C-D1) |
TUR
Buli
Sistektomi atau radiasi |
|
Metastasis
(stadium
D2)
|
Ajuvantivus
kemoterapi
Radiasi paliatif |
CONTOH KASUS :
Seorang
laki-laki 65 tahun datang ke RS dengan keluhan sakit saat kencing. Dari
anamnesis didapatkan pasien mengeluh sakit saat miksi
yang dirasakan di suprapubik, keluar air kencing warna merah terus menerus, saat
miksi penderita harus mengejan, dan kencing ³ 10x
sehari. Pada anamnesis juga diketahui bahwa penderita
memiliki kebiasaan mengkonsumsi kopi (+) sering, sebanyak ³ 3x sehari.
Sedangkan
dari pemeriksaan fisik, pada regio suprapubik teraba massa dengan konsistensi
keras, berukuran 3 x 3 x 1 cm, permukaan tidak rata, batas tidak tegas,
nyeri tekan (-). Dan didapatkan nyeri ketok di regio
CVA (Costo-Vertebra Angle) kiri.
Untuk
menegakkan diagnosis, dilakukan pemeriksaan penunjang berupa FPA-UIV dan USG
abdomen. Dari pemeriksaan UIV penderita, tampak filling defect dengan tepi
iregular pada lateral kiri Vesika Urinaria. Dari pemeriksaan UIV juga terlihat
gambaran flattening kaliks minor pada ginjal kanan maupun kiri, yang disertai
pelebaran pelvis renis pada ginjal kiri. Sementara ureter kiri tampak melebar
sampai ke ureteropevico junction dan kinking setinggi vertebra lumbal 4. Hasil
pemeriksaan USG pada penderita menunjukkan gambaran massa intravesika dengan hidronefrosis dan
hidroureter kiri. Dari pemeriksaan penunjang, yaitu USG abdomen dan
x-foto thoraks, tidak ditemukan adanya metastasis ke organ intraabdomen maupun
pulmo.
PEMBAHASAN KASUS
Pada
anamnesis diketahui bahwa penderita memiliki salah satu faktor resiko carsinoma
buli, yaitu riwayat konsumsi kopi (+) sering, sebanyak ³ 3x sehari, sementara faktor resiko lain tidak ditemukan.
Gambaran
klinis carsinoma buli biasanya berupa hematuri tanpa rasa sakit dan obstruksi.
Keluhan yang ditemukan pada penderita ini adalah:
·
Keluar air kencing
warna merah terus menerus à gross hematuria
·
Sakit saat miksi
(disuria) yang dirasakan di suprapubik à nyeri ini dapat terjadi akibat overdistensi buli2 yang
mengalami retensi urin.
·
Saat kencing penderita
harus mengejan agar keluar air kencingnya à menggambarkan adanya obstruksi
·
Kencing sebanyak ³ 10x sehari à polakisuri, dapat disebabkan karena
produksi urin yang berlebihan (poliuria) atau karena kapasitas buli-buli yang
menurun sehingga sewaktu buli-buli terisi pada volume yang belum mencapai
kapasitasnya, rangsangan miksi sudah terjadi. Pada penderita ini, terjadi penurunan
kapasitas buli-buli yang disebabkan karena adanya iritasi oleh benda asing di
dalam lumen buli-buli.
Sedangkan
pada pemeriksaan fisik, teraba massa di daerah suprapubik dengan
konsistensi keras, berukuran 3 x 3 x 1 cm, permukaan tidak rata, batas
tidak tegas, nyeri tekan (-). Dan didapatkan nyeri
ketok di regio CVA (Costo-Vertebra Angle) kiri, yang terjadi karena adanya
regangan kapsul ginjal akibat hidronefrosis.
Gambaran
radiologis carsinoma vesika urinaria pada UIV dapat berupa defek pengisian pada
vesika urinaria yang terisi kontras atau pola mukosa yang tidak teratur pada
film kandung kemih pascamiksi. Hasil pemeriksaan UIV dan USG pada penderita
tersebut menunjukkan adanya massa
di dalam vesika urinaria, disertai hidronefrosis dini
ren dextra (ringan) dan sinistra, serta hidroureter sinistra. Adanya obstruksi
ureter menunjukkan keterlibatan otot – otot di dekat orifisium ureter.
KESIMPULAN
Dari hasil anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pada penderita ini mengarah pada
diagnosis suspek carsinoma buli, hidronefrosis dextra et sinistra, dan
hidroureter sinistra. Perlu dilakukan tindakan TUR buli untuk mengetahui luas
infiltrasi tumor dan menentukan tindakan selanjutnya.
artikel terkait:
- kemilau batu berlian yang mengagumkan
- wanita terkenal di dunia
- manfaat dan makna ice cream bagi wanita
- masalah tentang wanita
BATU SALURAN KEMIH (UROLITHIASIS)
Urolithiasis merupakan penyakit yang salah satu dari
gejalanya adalah pembentukan batu di dalam saluran kemih. Penyakit ini diduga
telah ada sejak peradaban manusia yang tua, karena ditemukan batu di antara
tulang panggul kerangka mummi dari seorang berumur 16 tahun. Mummi ini
diperkirakan sekitar 7000 tahun. Di berbagai tempat lain dilaporkan penemuan
batu kandung kemih.
Penelitian epidemiologik memberikan kesan seakan-akan
penyakit batu mempunyai hubungan dengan tingkat kesejahteraan masyarakat dan
berubah sesuai dengan perkembangan kehidupan suatu bangsa. Berdasarkan
pembandingan data penyakit batu saluran kemih di berbagai negara dapat
disimpulkan bahwa di negara yang mulai berkembang terdapat banyak batu bagian
bawah, terutama terdapat di kalangan anak. Di negara yang sedang berkembang
terdapat insidensi batu yang relative rendah, baik dari batu saluran kemih
bagian bawah maupun dari batu saluran kemih bagian atas. Di Negara yang telah
berkembang terdapat banyak batu saluran kemih bagian atas, terutama di kalangan
orang dewasa. Pada suku bangsa tertentu penyakit batu saluran kemih sangat
jarang, misalnya suku bangsa Bantu di Afrika selatan.
Abad 16 hingga abad 18 tercatat insidensi tertinggi
penderita batu kandung kemih yang ditemukan pada anak di berbagai Negara Eropa.
Batu seperti ini sejak abad 18 menghilang sehingga disebut batu sejarah.
Berbeda dengan Eropa, di Negara berkembang penyakit batu kandung kemih seperti
ini masih ditemukan hingga saat ini, misalnya di Indonesia, Thailand, India,
Kamboja, dan Mesir. Karena ditemukan secara endemik, maka penyakit batu kandung
kemih ini disebut batu endemik atau batu primer karena terbentuk langsung di
dalam kandung kemih tanpa sebab yang jelas
(2).
Batu kandung kemih dapat juga terbentuk pada usia lanjut
yang disebut batu sekunder karena terjadi sebagai akibat adanya gangguan aliran
air kemih, misalnya karena hipertropi prostate (2).
II.1 Komposisi dan
Pembentukan Batu
Komposisi batu yang ditemukan pada seseorang perlu
ditentukan, karena komposisi batu dipakai sebagai landasan untuk menelusuri
etiologi penyakit batu saluran kemih. Analisa batu dapat dilakukan secara
kimiawi, yaitu kualitatif, cara kualitatif dengan metode kromatografik dan
autoanalisis. Cara lain ialah optik dengan diseksi mikroskopik binokuler dengan
mikroskop petrografik. Juga cara instrumental melalui kristalografi
radiografik, spektroskopi infra merah, termoanalitik dan mikroskopi elektron.
Kristalografi radiografik merupakan cara yang dianggap paling baik ditinjau
dari segi kesederhanaan dan ketepatannya.
Komposisi batu saluran kemih yang dapat ditemukan adalah
dari jenis asam urat, oksalat, fosfat, sistein dan xantin. Batu oksalat kalsium
kebanyakan merupakan batu idiopatik. Batu campuran oksalat kalsium dan fosfat
biasanya juga idiopatik, diantaranya berkaitan dengan sindroma alkali atau
kelebihan vitamin D. Batu fosfat dan kalsium kadang disebabkan hiperkalsiuria
(tanpa hiperkalsemia). Batu fosfat amonium magnesium didapatkan pada infeksi
kronik yang disebabkan bakteri yang menghasilkan urease sehingga urin menjadi
alkali karena pemecahan ureum. Batu asam urin disebabkan hiperuremia pada
artritis urika. Batu urat pada anak terbentuk karena pH urin rendah (1,3)
Pada kebanyakan penderita batu kemih ditemukan penyebab
yang jelas. Faktor predisposisi berupa stasis, infeksi dan benda asing.
Infeksi, stasis dan litiasis merupakan faktor yang saling memperkuat sehingga
terbentuk lingkaran setan atau disebut sirkulus visiosus.
Jaringan abnormal atau mati sepeti pada nekrosis papilla
di ginjal dan benda asing mudah menjadi nidus dan inti batu. Demikian pula
telor sistosoma kadang berupa nidus batu.
Batu idioptik disebabkan oleh pengaruh berbagai faktor.
Misalnya batu urat pada anak di negara yang sedang berkembang. Faktor yang
memegang peran kausal ialah dehidrasi dan gastroenteritis. Faktor ini
mengakibatkan oliguria dengan urin yang mengandung kadar tinggi asam urin dan
ikatan kimia lain. Faktor lain ialah imobilisasi lama pada penderita cedera
dengan fraktor multiple atau paraplegi yang menyebabkan dekalsifikasi tulang
dengan peningkatan ekskresi kalsium dan stasis, sehingga presipitasi batu mudah
terjadi. Pada sebagian kecil pemderita batu kemih didapatkan kelainan kausal
yang menyebabkan ekskresi kelebihan bahan dasar batu seperti yang terjadi pada
hiperparatiroidisme, hiperkalsiuria, artritis urika dan sistinuria.
II.2 Gambaran
Klinik
Tanda dan gejala penyakit batu saluran kemih ditentukan
oleh letaknya, besarnya dan morfologinya. Walaupun demikian penyakit ini
mempunyai tanda umum yaitu hematuria, baik hematuria makroskopik atau
mikroskopik. Selain itu, bila disertai infeksi saluran kemih dapat juga
ditemukan kelainan endapan urin bahkan mungkin demam atau tanda sistemik lain (2,3)
Berdasarkan jenisnya bibagi dalam :
II.2.1 Batu Pelvis
Ginjal
Batu pielum didapatkan dalam bentuk yang sederhana
sehingga hanya menempati bagian pelvis, tetapi dapat juga tumbuh mengikuti
bentuk susunan pelviokaliks, sehingga bercabang menyerupai tanduk rusa. Kadang
batu hanya terdapat di suatu kaliks. Batu pelvis ginjal dapat bermanifestasi
tanpa gejala sampai dengan gejala berat. Umumnya gejala batu saluran kemih
merupakan akibat dari obstruksi aliran kemih atau infeksi (5).
Nyeri di daerah pinggang dapat dalam bentuk pegal hingga
kolik atau nyeri yang terus menerus dan hebat karena adanya pionefrosis.
Pada pemeriksaan fisik mungkin kelainan sama sekali tidak
ada, sampai mungkin terabanya ginjal yang membesar akibat adanya hidronefrosis.
Nyeri dapat berupa nyeri tekan atau ketok pada daerah
arkus costa pada sisi ginjal yang terkena. Sesuai dengan gangguan yang terjadi,
batu ginjal yang terletak di pelvis dapat menyebabkan terjadinya hidronefrosis,
sedangkan batu kaliks pada umumnya tidak memberikan kelainan fisik.
II.2.2 Batu Ureter
Anatomi ureter menunjukkan beberapa tempat penyempitan
yang memungkinkan batu ureter dapat terhenti, karena adanya peristaltis maka
akan terjadi gejala kolik yaitu nyeri yang hilang timbul disertai perasaan mual
dengan atau tanpa muntah dengan nyeri alih khas. Selama batu bertahan di tempat
yang menyumbat, selama itu kolik akan datang sampai batu bergeser dan memberi
kesempatan pada air kemih untuk lewat (2).
Batu ureter mungkin dapat lewat sampai ke kandung kemih
dan kemudian keluar bersama kemih. Batu ureter juga bisa sampai ke kandung
kemih dan kemudian berupa nidus menjadi batu kandung kemih yang besar. Batu
juga bisa tetap tinggal di ureter sambil menyumbat dan menyebabkan obstruksi
kronik dengan hidroureter yang mungkin asimptomatik. Tidak jarang terjadi
hematuria yang didahului oleh serangan kolik. Bila keadaan obstruksi terus
berlangsung, lanjutan dari kelainan yang terjadi dapat berupa hidronefrosis
dengan atau tanpa pielonefritis, sehingga menimbulkan gambaran infeksi umum (2).
II.2.3 Batu Vesika
Urinaria
Karena batu menghalangi aliran air kemih akibat penutupan
leher kandung kemih, maka aliran yang mula-mula lancar secara tiba-tiba akan
terhenti dan menetes disertai dengan rasa nyeri. Pada anak, menyebabkan anak
yang bersangkutan menarik penisnya sehingga tidak jarang dilihat penis yang
agak panjang. Bila pada saat sakit tersebut penderita berubah posisi maka suatu
saat air kemih akan dapat keluar karena letak batu yang berpindah. Bila
selanjutnya terjadi infeksi yang sekunder, maka nyeri menetap di suprapubik (1,4).
II.2.4 Batu Prostat
Pada umunya batu prostat juga berasal dari air kemih yang
secara retrograde terdorong ke dalam saluran prostat dan mengendap, yang
akhirnya berupa batu yang kecil. Pada umumnya batu ini tidak memberikan gejala
sama sekali karena tidak menyebabkan gangguan pasase air kemih (4).
II.2.5 Batu Uretra
Batu uretra umumnya merupakan batu yang berasal dari
ureter atau vesika urinaria yang oleh aliran kemih sewaktu miksi terbawa ke
uretra, tetapi menyangkut di tempat yang agak lebar. Tempat uretra yang agak
lebar ini adalah di pars bulbosa dan di fossa navikular. Bukan tidak mungkin
dapat ditemukan di tempat lain.
Gejala yang ditimbulkan umumnya sewaktu miksi tiba-tiba
terhenti, menjadi menetes dan terasa nyeri.
Penyulit dapat berupa terjadinya divertikel, abses, fistel
proksimal, dan uremia karena obstruksi urin (3).
II.3 Diagnosis
Selain pemeriksaan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik
untuk menegakkan diagnosis, penyakit batu perlu ditunjang dengan pemeriksaan
radiologis, laboratorium, dan penunjang lain untuk menentukan kemungkinan
adanya obstruksi jalan kemih, infeksi dan gangguan faal ginjal.
Secara radiologik, batu ada yang radioopak dan ada yang
radiolusen. Sifat radioopak ini berbeda untuk berbagai jenis batu, sehingga
dari sifat ini dapat diduga jenis batu yang dihadapi. Yang radiolusen umumnya
adalah dari jenis asam urat murni.
Pada yang radioopak pemeriksaan dengan foto polos sudah
cukup untuk menduga adanya batu saluran kemih bila diambil foto dua arah. Pada
keadaaan yang istimewa tidak jarang batu terletak di depan bayangan tulang,
sehingga dapat terhindar dari pengamatan. Karena itu, foto polos perlu sering
ditambah dengan foto pielografi intravena atau yang biasa disebut foto BNO-IVP (5).
Pemeriksaan IVP memerlukan persiapan, yaitu malam sebelum
pemeriksaan diberikan kastor oli (catharsis) atau laksans untuk membersihkan
kolon dari feses yang menutupi daerah ginjal. Sebelumnya pasien juga harus
diperiksa kadar ureum dan kreatininnya untuk mengetahui fungsi ginjal. Untuk
mendapatkan keadaan dehidrasi ringan, pasien tidak diberikan cairan (minum)
mulai dari jam 10 malam sebelum pemeriksaan. Keesokan harinya penderita harus
puasa. Untuk bayi dan anak diberikan minum yang mengandung karbonat, tujuannya
untuk mengembangkan lambung dengan gas. Usus akan berpindah, sehingga bayangan
kedua ginjal dapat dilihat melalui lambung yang terisi gas. Bahan kontras
Conray (Meglumine Iothalamat 60% atau Hypaque Sodium/Sodium Diatrizoate 50%),
Urografin 60% atau 76%.
Sebelum pasien disuntik urografin 60 mg% harus dilakukan
terlebih dahulu uji kepekaan. Dapat berupa pengujian subkutan atau intravena.
Jika penderita alergi terhadap bahan kontras, pemeriksaan pielografi intravena
dibatalkan.
Dosis Urografin 60 mg% untuk orang dewasa adalah 20 ml.
Kalau perlu dapat diberikan dosis rangkap yaitu 40 ml. Tujuh menit setelah
penyuntikan dibuat film bucky antero-posterior abdomen. Foto berikutnya
diulangi pada 15, 30 menit dan 1 jam. Sebaiknya segera setelah pasien disuntuk
kontras, kedua ureter dibendung, baru dibuat foto 7 menit. Kemudian bendungan
dibuka, langsung dibuat foto dimana diharapkan kedua ureter terisi. Dilanjutkan
dengan foto 15 dan 30 menit. Pada kasus tertentu dibuat foto 1 dan 2 jam,
malahan foto 6, 12 dan 24 jam (15).
Pada batu yang radiolusen foto dengan bantuan kontras akan
menyebabkan terdapatnya defek pengisian pada tempat batu sehingga memberi
gambaran pada daerah batu yang kosong (4).
Yang menyulitkan adalah bila ginjal yang mengandung batu
tidak berfungsi lagi sehingga kontras tidak muncul. Dalam hal seperti ini perlu
dilanjutkan dengan pielografi retrograde atau anterograd yang dilaksanakan
pemasangan kateter ureter melalui sistokop pada ureter ginjal yang tidak dapat berfungsi
untuk memasukkan kontras.
Tehnik urografi retrograde memerlukan prosedur sistokopi.
Kateter dimasukkan oleh seorang ahli urologi. Kerjasama antara ahli urologi dan
radiology diperlukan, karena waktu memasukkan kontras, posisi pasien dapat
dipantau (dimonitor) dengan fluoroskopi atau televise. Udara dalam kateter
dikeluarkan, kemudian 25% bahan kontras yang mengandung jodium disuntikkan,
dengan dosis 5-10 ml, ini dibawah pengawasan fluoroskopi. Harus dicegah
pengisian yang berlebihan, sebab resiko ekstravasasi ke dalam sinus renalis
atau intravasasi ke dalam kumpulan saluran-saluran (collecting duct).
Ekstravasasi kontras dapat menutupi bagian-bagian yang halus dekat papilla.
Rutin dibuat proyeksi frontal dan oblik. Kemudian kateter diangkat pada akhir
pemeriksaan, lalu dibuat foto polos abdomen. Jika ada obstruksi dibuat lagi
foto 15 menit kemudian (5).
Pemeriksaan laboratorium diperlukan untuk mencari kelainan
kemih yang dapat menunjang akan adanya batu di saluran kemih, menentukan fungsi
ginjal, dan menentukan sebab terjadinya batu (4).
Pemeriksaan renogram berguna untuk menentukan faal setiap
ginjal secara terpisah pada batu ginjal bilateral atau bila kedua ureter
tersumbat total. Cara ini dipakai untuk memastikan ginjal yang masih mempunyai
sisa faal yang cukup sebagai dasar untuk melakukan tindak bedah pada ginjal
yang sakit.
Pemeriksaan ultrasonografi dapat dilakukan untuk semua
jenis batu tanpa tergantung kepada radiolusen atau radioopak. Di samping itu
dapat ditentukan ruang dan lumen saluran kemih. Pemeriksaan ini juga dipakai
untuk menentukan batu selama tindakan pembedahan untuk mencegah tertinggalnya
batu.
Pada pemeriksaan dengan CT-Scan, kontras dapat diberikan
maupun tidak. Pemeriksaan dengan CT-Scan ini umumnya dilakukan untuk mengetahui
batu yang ada di ginjal. Dapat bersifat informatif tentang morfologi dan
kelainan ginjal, beserta morfologi batu (4,5)
II.4 Diagnosis
Banding
Kolik ginjal dan ureter dapat disertai dengan akibat yang
lebih lanjut misalnya distensi usus dan pionfrosis dengan demam. Oleh karena
itu jika dicurigai terjadi kolik ureter maupun ginjal, khususnya yang kanan,
perlu dipertimbangkan kemungkinan kolik sakluran cerna, kandung empedu, atau
apendisitis akut. Selain itu pada wanita perlu juga dipertimbangkan kemungkinan
adneksitis.
Bila terjadi hematuria dipertimbangkan keganasan apalagi
jika hematuria terjadi tanpa nyeri. Selain itu batu saluran kemih yang
bertahun-tahun dapat menyebabkan terjadinya tumor yang umumnya karsinoma
epidermoid, akibat rangsangan dan inflamasi.
Khusus untuk batu ginjal dengan hidrnefrosis perlu
dipertimbangkan kemungkinan tumor ginjal mulai dari jenis ginjal polikista
hingga tumor Grawitz.
Pada batu ureter, terutama dari jenis yang radiolusen,
apalagi bila disertai dengan hematuria yang tidak disertai dengan kolik, perlu
dipertimbangkan kemungkinan tumor ureter, walaupun tumor ini jarang ditemukan.
Dugaan batu vesika urinaria juga perlu dibandingkan dengan
kemungkinan tumor kandung kemih terutama bila batu yang terdapat dari jenis
radioluasen.
Batu prostat yang biasanya tidak sukar didiagnosis karena
gambaran radiologiknya yang khas, yang kecil seperi kumpulan pasir di daerah
prostat. Tetapi pada pemeriksaan colok dubur dapat memberi kesan adanya
keganasan, terutama bila terdapat batu yang cukup banyak sehingga teraba
seperti karsinoma prostat. Dalam keadaan yang tidak pasti seperti itu perlu
dilakukan biopsi prostat (1,2,3)
II.5
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan batu saluran kemih harus tuntas, sehingga
bukan hanya mengeluarkan batu saja, tetapi harus disertai dengan terapi
penyembuhan penyakit batu atau paling sedikit disertai dengan terapi
pencegahan. Hal ini karena batu sendiri hanya merupakan gejala penyakit batu,
sehingga pengeluaran batu dengan cara apapun bukanlah merupakan terapi yang
sempurna. Selanjutnya perlu juga diketahui bahwa pengeluaran batu baru
diperlukan bila batu menyebabklan gangguan pada saluran air kemih. Bila batu
ternyata tidak memberi gangguan fungsi ginjal, maka batu tersebut tidak perlu
diangkat apalagi misalnya pada batu ureter diharapkan batu dapat keluar
sendiri.
Penanganannya dapat berupa terapi medik dan simptomatik
atau dengan bahan pelarut. Dapat pula dengan pembedahan atau dengan tindak
bedah yang kurang invasif, misalnya nefrostomi perkutan, atau tanpa pembedahan
sama sekali antara lain secara gelombang kejut.
Terapi medik batu saluran kemih berusaha mengeluarkan batu
atau melarutkan batu. Pengobatan simptomatik mengusahakan agar nyeri khususnya
kolik yang terjadi menghilang dengan pemberian simpatolitik. Selain itu terutama
untuk batu ureter yang dapat diharapkan keluar dengan sendirinya, dapat
diberikan minum berlebihan disertai diuretikum. Dengan produksi air kemih yang
lebih banyak diharapkan dapat mendorong dan mengeluarkan batu (3).
II.6 Pencegahan
Untuk mencegah pembentukan kristal fosfat, ammonium,
magnesium, semua batu yang ada dalam saluran kemih harus dihilangkan karena
kuman B.Proteus dapat berada di bagian yang sulit dicapai oleh antibiotic.
Karena itu untuk batu struvit mutlak harus dicegah adanya batu residu agar
infeksi dapat dibasmi sempurna. Kristalisasi asam urat sangat tergantung pada
pH urin. Bila pH selalu di atas 6,2 maka tidak akan terbentuk kristal asam
urat. Pencegahannya adalah dengan diit dan pada penyakit asam urat yang tinggi
dalam serum dapat diberikan alopurinol.
Peningkatan saturasi oktokalsium fosfat sama seperti
magnesium, ammonium, fosfat, yaitu tergantung pada pH. Hanya pada nilai pH di
atas 6,5 nilai saturasi oktokalsium fosfat akan berada di atas daerah lewat
jenuh.
Kalsium oksalat terdapat pada 75% batu ginjal dan
merupakan komposisi yang paling sering ditemukan pada batu saluran kemih di
Negara maju, dalam keadaan normal kalsium oksalat tidak berada dalam puncak
saturasi di air kemih. Faktor utama yang menentukan saturasi oksalat kalsium
adalah kalsium dan oksalat. Oksalat mempunyai potensi jauh lebih besar jika
dibanding dengan kalsium sebagai faktor saturasi di air kemih sehingga untuk
menghindari terjadinya kristalisasi kalsium oksalat yang terpenting adalah
mencegah ekskresi oksalat di air kemih. Ekskresi oksalat di air kemih sebagian
berasal dari makanan, tetapi sebagian besar bersumber dari metabolisme endogen.
Dari bahan makanan yang paling banyak mengandung oksalat adalah bayam, teh,
kopi dan coklat. Makanan dengan rendah oksalat merupakan cara yang bermanfaat
untk mengurangi ekskresi okasalat(1,3).
artikel terkait
- keindahan dan kecantikan berlian
- manfaat ice cream bagi kesehatan
- berbagai macam informasi tentang wanita
Subscribe to:
Posts (Atom)