PENDAHULUAN
Dewasa ini penggunaan
pemeriksaan radiologi kian meningkat. Begitupun dalam penggunaannya sebagai
alat bantu diagnosa sekaligus terapi pada kelainan – kelainan traktus
urinarius. Berbagai kelainan baik kongential maupun didapat dalam sistem ini
dapat diperiksa dengan bantuan radiologi melalui beberapa macam pemeriksaan
yaitu, Foto Polos Abdomen (FPA), Ultrasonografi (USG), IntraVenous
Pyelography/Urografi IntraVena (IVP/UIV), Retrograde Pyelography (RPG),
Antegrade Pyelography (APG), urografi retrograde, CT Scan, sampai Nuclear
Magnetic Resonance. Dengan macam–macam pemeriksaan ini dapat diketahui adanya
anomali ginjal, massa
pada traktus urinarius, peradangan, dilatasi traktus urinarius, sampai pada
penilaian fungsi ekskresi dan kerusakan struktur ginjal.
Hidronefrosis dan
hidroureter diartikan sebagai dilatasi pada kaliks ginjal dan ureter. Kasus
hidronefrosis dan hidroureter semakin sering didapati. Di Amerika Serikat,
insidensinya mencapai 3,1 %, 2,9 % pada wanita dan 3,3 % pada pria. Penyebabnya
dapat bermacam – macam dimana obstruksi merupakan penyebab yang tersering.
Keganasan pada vesika
urinaria menempati urutan kedua setelah keganasan prostat. Penyebabnya dapat
bermacam – macam dan tersering adalah akibat faktor pekerjaan.
Artikel ini akan membahas
mengenai pemeriksaan radiologi pada kasus dengan diagnosa hidronefrosis,
hidroureter dan suspek keganasan vesika urinaria.
SEKILAS TENTANG
ANATOMI TRAKTUS URINARIUS
Ginjal
berbentuk oval, terletak retroperitoneal di dinding posterior abdomen, setinggi
vertebra Torak 12 – Lumbal 3. Ginjal kanan biasanya terletak lebih bawah dari
ginjal kiri karena ukuran hepar kanan yang besar. Ginjal kanan dipisahkan
dengan hepar kanan oleh fleksura hepatorenal. Ginjal kiri berhubungan dengan
lambung, limpa, pankreas, yeyunum, dan kolon desenden. Pada cekungan batas
medial ginjal terdapat hilus renal. Terdapat tiga bangunan yang melewatinya
yaitu arteri renalis, vena renalis, dan pelvis renalis. Vena renalis terletak
di anterior arteri renalis yang juga berada di anterior pelvis renalis. Hilus
renalis merupakan pintu masuk ke dalam struktur ginjal yang disebut sinus
renalis yang terdiri dari pelvis renalis, kalises, pemuluh darah, saraf, dan
lemak. Ginjal memiliki permukaan antrior dan posterior, batas lateral dan
medial, polus superior dan inferior.
Ureter
merupakan sebuah saluran dengan dinding berupa lapisan otot, panjang 25 – 30
cm, terletak retro peritoneal yang menghubungkan ginjal dengan vesika urinaria.
Bagian superiornya terletak di rongga abdomen dan memasuki rongga pelvis
melewati pelvis. Bagian pelvik dari ureter berawal letika ureter menyilang
bifurctio arteri iliaka komunis. Ureter berjalan posteroinferior dinding
lateral pelvis, anterior dari arteri iliaka interna, dan eksternal dari
peritoneum perietal pelvis. Ureter berjalan memasuki vesika urinaria setelah
melingkar anteromedial, superior dari muskulus levator ani. Ureter berjalan
secara oblik di dalam dinding otot vesika urinaria. Pintu masuknya memberi
kontur seperti valvula flap yang akan akan bertindak seperti sfingter bila otot
vesika urinaria berkontraksi untuk mencegah refluks urin.
Vesika urinaria
merupakan sebuah kantong dengan dinding berupa lapisan otot yang tebal dan
memiliki karakteristik dapat berdistensi. Dalam keadaan kosong, vesika urinaria
terletak di dasar panggul, posterosuperior dari os pubis, dipisahkan oleh ruang
retropubik. Vesika urinaria terletak relatif bebas dalam jaringan lemak
subkutan keculai bagian lehernya yang pada wanita difiksasi oleh ligamentum
pubovesikalis, dan ligamentum puboprostatika pada laki – laki. Dalam keadaan
kosong, bentuknya menyerupai segi emapt tak beraturan yang terdiri dari apeks,
corpus, fundus, leher, dan uvula.
PEMERIKSAAN
RADIOLOGIS TRAKTUS URINARIUS
Pada setiap pemeriksaan
traktus urinarius sebaiknya diawali dengan pembuatan foto polos abdomen
(FPA). Yang harus diperhatikan disini adalah kontur, ukuran, dan
posisi kedua ginjal. Dapat pula dilihat kalsifikasi dalam kista dan tumor, batu
radioopak dan perkapuran dalam ginjal. Interpretasi terhadap kalsifikasi
saluran ginjal harus dilakukan secara hati – hati karena phlebolit dalam
kelenjar mesenterika dan vena pelvis sering disalahartikan sebagai batu ureter.
Pemeriksaan UIV
akan menghasilkan sebuah gambaran yang disebut dengan pielogram. Pada pielogram
normal, akan didapatkan gambaran bentuk kedua ginjal seperti kacang. Kutub atas
ginjal kiri setinggi vertebra Th11, batas bawahnya setinggi korpus vertebra L3.
Ginjal kanan letaknya kira – kira 2 cm lebih rendah daripada yang kiri. Pada
pernafasan, kedua ginjal bergerak, dan pergerakan ini dapat dilihat dengan
fluoroskopi. Arah sumbu ke bawah dan lateral sejajar dengan muskuli psoas kanan
dan kiri. Dengan adanya lemak perirenal, ginjal menjadi lebih jelas terlihat.
Hal ini terutama dapat dilihat pada orang gemuk. Pelvis renis lalu dilanjutkan
dengan kalik mayor, biasanya berjumlah 2 buah. Dari kalik mayor dilanjutkan
dengan kalik minor yang jumlahnya antara 6 – 14 buah. Kedua ureter berjalan
lurus dari pelvis renis ke daerah pertengahan sakrum dan berputar ke belakang
lateral dalam suatu arkus, turun ke bawah dan masuk ke dalam dan depan untuk
memasuki trigonum vesika urinaria. Tiga tempat penyempitan ureter normal adalah
pada ureteropelvical junction, ureterovesical junction, dan persilangan
pembuluh darah iliaka.
Pemeriksaan USG
ginjal merupakan pemeriksaan yang tidak invasif. Sebelum pemeriksaan, pasien
dipuasakan untuk meminimalkan gas di usus yang dapat menghalangi pemeriksaan.
Penilaian UIV sangat dibutuhkan untuk menetukan posisi ginjal dan daerah yang
perlu dinilai lebih lanjut. Fokus transduser yang digunakan sekitar 5 cm, 2,5 –
3,5 MHz cukup memadai. Lakukan irisan transversal untuk menentukanlokasi aksis
ginjal, diikuti dengan irisan – irisan longitudinal, bila perlu gunakan
magnifikasi. Ginjal turut bergerak pada pernapasan, sehingga pasien diminta
untuk menahan napas pada inspirasi dalam. Penilaian kutub atas ginjal paling
baik dengan sektor transduser melalui celah iga. Ginjal kanan dapat diperiksa
dengan pasien pada posisi supine, left lateral decubitus, dan pronasi.
Sementara untuk ginjal kiri, digunakan posisi right lateral decubitus dan
pronasi. Posisi supine tidak dianjurkan untuk memeriksa ginjal kiri karena
gambaran ginjal terganggu oleh gambaran udara lambung dan usus. Sonic window
yang digunakan adalah otot perut belakang dan posterolateral serta celah iga.
Pada ginjal kanan, hepar juga digunakan sebagai sonic window, sedangkan pada
ginjal kiri yang dipakai adalah lambung yang berisi air.
USG dapat memberikan
keterangan tentang ukuran, bentuk, letak, dan struktur anatomi dalam ginjal.
Ukuran ginjal normal berkisar antara:
·
ginjal kanan : 8 – 14 cm
·
ginjal kiri : 7 – 12 cm
Diameter anteroposterior
rata – rata 4 cm dan diameter melintang rata – rata 5 cm. Lemak perirenal
tampak sebagai lapisan yang berdensitas tinggi mengelilingi sisi luar ginjal.
Sementara parenkim ginjal terdiri atas korteks dan medula. Eko parenkim ginjal
relatif lebih rendah dibandingkan dengan eko sinus ginjal. Medula dan korteks
dapat jelas dibedakan. Pada keadaan normal, eko korteks lebih tinggi daripada
eko medula, yang relatif lebih hiperekoik. Tebal parenkim ginjal normal hampir
merata, di bagian tengah 1 – 2 cm dan di bagian kutub 2 – 3 cm. Tebal parenkim
ginjal dibandingkan tebal sinus ginjal kira – kira 1 : 2. Piramis medula berisi
lebih banyak cairan daripada korteks sehingga terlihat lebih hipoekoik,
berbentuk segitiga, dengan basis di korteks dan apeksnya di sinus. Eko sinus
ginjal juga dikenal sebagai central pelvicaliceal echo complex, terlihat
sebagai daerah hiperekoik di bagian tengah ginjal. Hal ini disebabkan karena di
sekitar pelvis, infundibulum, dan kalises sebagian besar terdiri dari lemak.
CARSINOMA BULI,
KOMPLIKASI, DAN GAMBARAN RADIOLOGISNYA
Setelah carsinoma prostat,
vesika urinaria merupakan tempat tersering pada keterlibatan proses neoplastik
saluran kemih.3 Jenis yang tersering adalah carsinoma sel
transisional. Penyebabnya antara lain pajanan amin aromatik dari industri
(anilin, karet, huli), asap rokok, infeksi kronis oleh Schistosoma haematobium dan
proses peradangan kronis akibat batu yang dapat menyebabkan carsinoma sel
skuamosa.1,2 Gambaran klinis biasanya berupa hematuri tanpa rasa
sakit dan obstruksi.
Penampakan carsinoma
vesika urinaria dapat berupa defek pengisian pada vesika urinaria yang
terisi kontras atau pola mukosa yang tidak teratur pada film kandung kemih
pascamiksi. Jika urogram intravena menunjukkan adanya obstruksi ureter, hal
tersebut lebih menekankan pada keterlibatan otot – otot di dekat orifisium
ureter dibandingkan obstruksi akibat massa
neoplasma yang menekan ureter. CT atau MRI bermanfaat dalam penilaian
praoperatif terhadap penyebab intramural dan ekstramural, invasi lokal,
pembesaran kelenjar limfe, dan deposit sekunder pada hati atau paru.
Hidronefrosis
diartikan sebagai suatu kondisi dimana pelvis dan kalises ginjal berdilatasi,
sedangkan definisi hidroureter merupakan dilatasi atau
pelebaran dari ureter. Penyebab tersering dari kedua kondisi ini sebagian besar
adalah obstruksi.2 Kelainan lain yang dapat menjadi penyebab adalah
striktur, penyimpangan pembuluh darah dan katup, tumor, batu, ataupun lesi di
medulla spinalis. Hidronefrosis dapat bervariasi dari yang ringan
misalnya hidronefrosis akibat kehamilan sampai yang dapat mengancam nyawa
misalnya pionefrosis. Untuk dapat membedakan kondisi akut dari kronis, secara
garis besar dapat dilihat dari gangguan anatomik parenkim ginjal yang minimal.
Sementara untuk lebih tepatnya, suatu hidronefrosis dapat dikatakan akut
apabila terdapat pengembalian fungsi ginjal secara utuh setelah penyebabnya
dihilangkan. Sedangkan dikatakan kronis bila setelah penyebabnya dihilangkan,
fungsi ginjal tidak kembali normal.
Patofisiologi terjadinya
hidronefrosis dan hiroureter diawali dengan adanya hambatan aliran urin secara
anatomik ataupun fisiologik. Hambatan ini dapat terjadi dimana saja sepanjang
ginjal sampai meatus uretra. Peningkatan tekanan ureter menyebabkan perubahan
dalam filtrasi glomerulus (GFR), fungsi tubulus, dan aliran darah ginjal. GFR
menurun dalam beberapa jam setelah terjadinya hambatan. Kondisi ini dapat
bertahan selama beberpa minggu. Fungsi tubulus juga terganggu. Berat dan durasi
kelainan ini tergantung pada berat dan durasi hambatan aliran. Hambatan aliran
yang singkat menyebabkan kelainan yang reversibel sedangkan sumbatan kronis
menyebabkan atrofi tubulus dan hilangnya nefron secara permanen. Peningkatan
tekanan ureter juga aliran balik pielovena dan pielolimfatik. Dalam duktus
kolektivus, dilatasi dibatasi oleh parenkim ginjal. Namun komponen diluar
ginjal dapat berdilatasi maksimal.
Pada urogram,
hidronefrosis dini memberikan gambaran kalik – kalik yang mendatar
(flattening). Sementara pada keadaan lanjut, memperlihatkan kalik – kalik
berupa tongkat (clubbing). Pada tingkat yang lebih parah terjadi destruksi
parenkim dan pembesaran traktus urinarius, kompresi papila, penipisan parenkim
di sekitar kalises, dan dapat terjadi atrofi korteks yang berjalan progresif
dan akhirnya terbentuk kantung hidronefrotik (balloning).
Sementara pada USG,
derajat hidronefrosis terbagi menjadi tiga. Hidronefrosis ringan memberikan
gambaran hipoekoik di bagian tengah ginjal. Pada hidronefrosis sedang terlihat
pelebaran peilokalikises yang sama baiknya seperti pada urografi. Sedangkan
pada hidronefrosis berat tampak kalises berupa suatu zona bebas eko yang
lobulated, parenkim ginjal tidak jelas lagi.
TERAPI
Tindakan
yang pertama dilakukan pada pasien carsinoma buli-buli adalah reseksi bulu-buli
transuretra atau TUR buli-buli. Pada tindakan ini dapat sekaligus ditentukan
luas infiltrasi tumor. Terapi selanjutnya tergantung pada stadiumnya.5
Alternatif Terapi Setelah TUR Buli-buli
|
Stadium
|
Tindakan
|
|
Superfisial
(stadium 0 – A) |
TUR
Buli/fulgurasi
Instilasi intravesika |
|
Invasif
(stadium B-C-D1) |
TUR
Buli
Sistektomi atau radiasi |
|
Metastasis
(stadium
D2)
|
Ajuvantivus
kemoterapi
Radiasi paliatif |
CONTOH KASUS :
Seorang
laki-laki 65 tahun datang ke RS dengan keluhan sakit saat kencing. Dari
anamnesis didapatkan pasien mengeluh sakit saat miksi
yang dirasakan di suprapubik, keluar air kencing warna merah terus menerus, saat
miksi penderita harus mengejan, dan kencing ³ 10x
sehari. Pada anamnesis juga diketahui bahwa penderita
memiliki kebiasaan mengkonsumsi kopi (+) sering, sebanyak ³ 3x sehari.
Sedangkan
dari pemeriksaan fisik, pada regio suprapubik teraba massa dengan konsistensi
keras, berukuran 3 x 3 x 1 cm, permukaan tidak rata, batas tidak tegas,
nyeri tekan (-). Dan didapatkan nyeri ketok di regio
CVA (Costo-Vertebra Angle) kiri.
Untuk
menegakkan diagnosis, dilakukan pemeriksaan penunjang berupa FPA-UIV dan USG
abdomen. Dari pemeriksaan UIV penderita, tampak filling defect dengan tepi
iregular pada lateral kiri Vesika Urinaria. Dari pemeriksaan UIV juga terlihat
gambaran flattening kaliks minor pada ginjal kanan maupun kiri, yang disertai
pelebaran pelvis renis pada ginjal kiri. Sementara ureter kiri tampak melebar
sampai ke ureteropevico junction dan kinking setinggi vertebra lumbal 4. Hasil
pemeriksaan USG pada penderita menunjukkan gambaran massa intravesika dengan hidronefrosis dan
hidroureter kiri. Dari pemeriksaan penunjang, yaitu USG abdomen dan
x-foto thoraks, tidak ditemukan adanya metastasis ke organ intraabdomen maupun
pulmo.
PEMBAHASAN KASUS
Pada
anamnesis diketahui bahwa penderita memiliki salah satu faktor resiko carsinoma
buli, yaitu riwayat konsumsi kopi (+) sering, sebanyak ³ 3x sehari, sementara faktor resiko lain tidak ditemukan.
Gambaran
klinis carsinoma buli biasanya berupa hematuri tanpa rasa sakit dan obstruksi.
Keluhan yang ditemukan pada penderita ini adalah:
·
Keluar air kencing
warna merah terus menerus à gross hematuria
·
Sakit saat miksi
(disuria) yang dirasakan di suprapubik à nyeri ini dapat terjadi akibat overdistensi buli2 yang
mengalami retensi urin.
·
Saat kencing penderita
harus mengejan agar keluar air kencingnya à menggambarkan adanya obstruksi
·
Kencing sebanyak ³ 10x sehari à polakisuri, dapat disebabkan karena
produksi urin yang berlebihan (poliuria) atau karena kapasitas buli-buli yang
menurun sehingga sewaktu buli-buli terisi pada volume yang belum mencapai
kapasitasnya, rangsangan miksi sudah terjadi. Pada penderita ini, terjadi penurunan
kapasitas buli-buli yang disebabkan karena adanya iritasi oleh benda asing di
dalam lumen buli-buli.
Sedangkan
pada pemeriksaan fisik, teraba massa di daerah suprapubik dengan
konsistensi keras, berukuran 3 x 3 x 1 cm, permukaan tidak rata, batas
tidak tegas, nyeri tekan (-). Dan didapatkan nyeri
ketok di regio CVA (Costo-Vertebra Angle) kiri, yang terjadi karena adanya
regangan kapsul ginjal akibat hidronefrosis.
Gambaran
radiologis carsinoma vesika urinaria pada UIV dapat berupa defek pengisian pada
vesika urinaria yang terisi kontras atau pola mukosa yang tidak teratur pada
film kandung kemih pascamiksi. Hasil pemeriksaan UIV dan USG pada penderita
tersebut menunjukkan adanya massa
di dalam vesika urinaria, disertai hidronefrosis dini
ren dextra (ringan) dan sinistra, serta hidroureter sinistra. Adanya obstruksi
ureter menunjukkan keterlibatan otot – otot di dekat orifisium ureter.
KESIMPULAN
Dari hasil anamnesis,
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang pada penderita ini mengarah pada
diagnosis suspek carsinoma buli, hidronefrosis dextra et sinistra, dan
hidroureter sinistra. Perlu dilakukan tindakan TUR buli untuk mengetahui luas
infiltrasi tumor dan menentukan tindakan selanjutnya.
artikel terkait:
- kemilau batu berlian yang mengagumkan
- wanita terkenal di dunia
- manfaat dan makna ice cream bagi wanita
- masalah tentang wanita
No comments:
Post a Comment