Epidural hematoma adalah akumulasi dari darah dan
gumpalan darah antara lapisan dura mater dan tulang tengkorak. Sumber
perdarahan dari epidural hematoma adalah arteri meningea (seringkali arteri
meningea media) atau terkadang sinus venosus dura. Perdarahan ini memiliki
bentuk yang bikonveks atau lentikuler. Pasien dengan epidural hematom akan
mengalami kesadaran menurun yang berlangsung singkat pada awalnya, diikuti
dengan lucid interval. Interval ini kemudian diikuti dengan kemunduran klinis
yang cepat. Semua pasien dengan perdarahan epidural membutuhkan intervensi yang
cepat dari spesialis bedah saraf. Epidural hematom akan menempati ruang dalam
otak, olehnya itu, perluasan yang cepat dari lesi ini, dapat menimbulkan
penekanan pada otak (Snell, 2007). Epidural hematoma adalah terkumpulnya
darah dalam rongga potensial antara duramater dan tulang yang dapat terjadi
intrakranial (EDH) atau spinal (SEDH). EDH terjadi pada 2% pasien dengan cedera
kepala dan 5-15% pada pasien dengan cedera kepala berat. EDH perlu selalu
dipikirkan karena dapat menyebabkan komplikasi serius terbanyak pada cedera
kepala, sehingga perlu diagnosa sesgera dan intervensi bedah. EDH dapat terjadi
akut(58%), subakut(31%), atau kronik (11%). SEDH dapat juga disebabkan karena
trauma yang terjadi secara spontan. Epidural hematom biasanya merupakan hasil
dari kontak paksa yang berlangsung singkat pada calvaria yang mengakibatkan
terpisahnya periosteal dura dari tulang dan terganggunya pembuluh darah yang
terkena karena penekanan. Fraktur tulang tengkorak terjadi pada 85-95% kasusu
dewasa, tetapi dapat juga ditemukan pada anak-anak karena plastisitas tulang
kalvaria yang immatur. Struktur aretri dan vena dapat terganggu, disebabkan
expansi cepat pada hematom, bagaimanapun kronik atau manifestasi yang terlambat
dapat terjadi apabial vena sentral terlibat. Extensi yang terjadi pada hematoam
biasanya dibatasi oleh garis sutura yang melengkaapi erat pada dura di lokasi
ini. Daerah tempororparietal dan arteri meningea media pada umumnya terlibat
(66%), meskipun arteri ethmiodalis anteriordapt juga terlibat pada trauma
dibagian frontal, sinus transversus atau sinus sigmoid pada trauma oksipital,
dan sinus sagitali superior pada trauma di verteks. Epidural hematom bilateral
dapt terjadi sekitarr 2-10% pada semua kasusu epidural hematom akut orang
dewasa dan lebih jarang pada anak-anak. Epidural hematom fossa posteriro
terjadi sekitar 5% pada semua kasus epidural hematom (Hafid, 2007). Angka kematian meningkat pada pasien dengan umur dibawah 5 tahun
dan diatas 55 tahun. Pasien dengan umur dibawah 20 tahun, 60 % didapati dengan
epidural hematoma. Epidural hematoma tidak lazim pada pasien usia lanjut
dikarenakan, lapisan dura telah melekat dengan kuat pada dinding bagian dalam
tengkorak. Pada kasus-kasus epidural hematom, kurang dari 10% adalah pasien
dengan umur diatas 50 tahun (Bernath, 2009). Di Amerika serikat ,
epidural hematom merupakan komplikasi pada trauma kepala terjadi sekitar 40,000
kasus pertahun. SEDH 1 per 100000 orang seiap tahunnya. Alkohol dan bentuk
intoksikasi lain ternyata memiliki hubungan dengan insiden tertinggi pada
epidural hematom. Frekuensi epidural hematom secara internasional belum
diketahui, dipikirkan frekuensinya hampir sama dengan frekuensi epidural
hematom yang terjadi di Amerika serikat. Angka mortalitas epidural hematom
diperkiakan sekitar 5-50%. Tingkat kesadaran sebelumnbya untuk dilakukan
tindakan pembedahan berhubungan dengan angka kematian, 0% untuk pasien compos
mentis, 9% somnolen, 20% pada koma. Angka mortalitas pada EDH bilateral sekitar
15-20%. Epidural hematom fossa posterior memiliki angka mortalitas sekitar 26%.
Tidak ada hubungan ras dengan angka insidensi epidural hematoam. EDH dan SEDH
lebih sering terjadi pada laki-laki, dengan rasio pria : wanita adalah 4:1. EDH
jarang terjadi pada anak-anak kurang dari 2 tahun. EDH juga jarang pada orang
yang berusia tua lebih dari 60 tahun karena dura melekat erat pada kalvaria.
SEDH memiliki distribusi ganda dengna puncaknya pada usia anak-anak dan dekade
kelima dan keenam dalam kehidupan
Ariwibowo, 2008).
artikel terkait kesehatan
No comments:
Post a Comment