Meski ada yang bersifat
bawaan, kelainan ginjal tidak selalu bisa terdeteksi sejak anak berada dalam
kandungan. Ada yang baru terdeteksi sewaktu bayi, kala balita, bahkan ketika
sudah duduk di bangku SD. Mengapa bisa demikian?
Tak lain karena kecurigaan yang biasanya diikuti dengan berbagai pemeriksaan
baru akan dilakukan bila anak mengalami keluhan atau memperlihatkan tanda-tanda
yang mengarah ke sana.
Menurut dr. Endang Lestari, S.pA dari RSAB Harapan Kita, Jakarta, kelainan
ginjal bawaan dibedakan menjadi 2 jenis, yakni:
• Uropati kongenital berupa kelainan yang mengenai saluran-saluran yang
terdapat di antara saluran kemih dan kandung kemih. Kelainannya meliputi
infeksi saluran kemih, sumbatan di saluran kemih/kandung kemih, lemahnya klep
antara kandung kemih dan saluran kemih.
• Nefropati kongenital berupa kelainan dari saluran kemih bagian atas hingga
ginjal. Di antaranya ginjal kecil, ginjal bengkak, ginjal hanya satu,
pertumbuhan ginjal tidak sempurna, kista pada ginjal dan hipoplasia.
KEMUNGKINAN PENYEBAB
Lebih lanjut, Endang menjelaskan beberapa faktor yang menjadi penyebab
munculnya kelainan ginjal bawaan:
• Genetik
Walau persentasenya kecil, kelainan ginjal bawaan bisa saja karena faktor
keturunan. Contohnya, ayah atau kakek-nenek yang memiliki kelainan ginjal bisa
menurunkan gangguan/kelainan sejenis pada anak-cucu. Bentuk kelainannya bisa
berupa pembengkakan ginjal, ginjal yang tak berkembang semestinya, atau hanya
punya satu ginjal.
• Hamil di usia rawan
Yang termasuk dalam kategori ini adalah para ibu yang hamil di atas usia 40
tahun atau sebaliknya usia ibu masih terlalu muda saat hamil, yakni 17 tahun
atau malah lebih muda. Kehamilan di usia rawan sangat memungkinkan janin
mengalami pertumbuhan yang kurang optimal selagi dalam kandungan.
• Obat-obatan
Itulah mengapa tak henti-hentinya diserukan untuk berhati-hati mengonsumsi obat
selama hamil. Terutama jenis antibiotika atau obat-obatan antikanker.
Sederhananya, jangan pernah mengonsumsi obat tanpa sepengetahuan dokter.
• Radiasi
Faktor radiasi yang dimaksud di sini adalah bila si ibu terpapar X-Ray. Itulah
mengapa di ruang radiologi untuk pemeriksaan rontgen jelas-jelas
terpampang larangan bagi perempuan yang tengah hamil.
BAGAIMANA MENDETEKSINYA?
Hidup di zaman yang serbacanggih dan modern seperti sekarang ini tentu saja
memberi banyak kemudahan. Salah satunya, kata Endang yang merupakan dokter anak
subspesialisasi nefrologi, teknologi dan ilmu pengetahuan kedokteran yang sudah
sedemikian maju sehingga memungkinkan untuk mendeteksi kelainan ginjal bawaan
sejak dini. Selagi masih dalam kandungan (tepatnya di trimester ketiga), dengan
bantuan USG dokter bisa menemukan kecurigaan adanya kelainan/gangguan pada
ginjal dan sistem kemihnya. Pada pembengkakan ureter, salah satu atau kedua
ginjal janin tampak membesar.
Pada beberapa kasus, misalnya hidronefrosis, ada beberapa dokter yang berani
melakukan tindak penanganan saat bayi masih dalam kandungan. Meski biasanya
tindakan baru dilakukan oleh dokter ginjal anak setelah bayi lahir.
USG umumnya digunakan untuk memastikan kondisi ginjalbayi. Setelah itu barulah
dilakukan tindakan yang disesuaikan berdasarkan kondisi yang ditemui. Apakah
lewat operasi, terapi, atau penyedotan cairan saja. Sayangnya, ada juga
gangguan ginjal bawaan yang tidak terdeteksi saat di dalam kandungan. Gangguan
ini umumnya baru terdeteksi sesudah si bayi lahir dengan memperlihatkan
tanda-tanda, di antaranya 2 hari tidak BAK, kesulitan kencing, atau ada
benjolan di samping kanan/kiri perutnya. Jika menemukan ciri-ciri tersebut
biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut atau merujuk ke dokter
anak yang mendalami ginjal guna mendapat pemeriksaan dan penanganan semestinya.
Sementara pada usia balita, kelainan ginjal bawaan umumnya baru bisa terdeteksi
saat anak menunjukkan gejala. Di antaranya sakit kala kencing, kencingnya
sedikit-sedikit, kencingnya keruh, atau keluhan kencing yang dibarengi dengan
naiknya suhu tubuh. Sebagai penanganan pertama biasanya akan diberi obat untuk
tenggang waktu 2 minggu. Jika gejala-gejala menghilang berarti tidak ada
masalah berarti. Namun perlu dicermati dengan saksama bila gejala serupa muncul
kembali beberapa hari kemudian, atau meski sudah diobat kondisinya tak kunjung
membaik. Yang bersangkutan perlu penanganan spesifik berupa pemeriksaan ginjal
untuk mengetahui apakah ada penyumbatan, mengalami pengecilan, atau ada
tidaknya infeksi ginjal.
Sementara pada usia sekolah, anak dicurigai mengalami kelainan ginjal bawaan
kalau anak mengeluh perutnya sering sakit. Dari keluhan yang terlalu sering ini
biasanya dokter akan melakukan USG. Nah, dari pemeriksaan inilah akan terlihat
apakah anak memiliki dua ginjal sebagaimana mestinya atau mungkin malah hanya
satu.
Kista pada ginjal juga merupakan kasus kelainan ginjal bawaan yang sering
terdeteksi di usia sekolah tanpa sengaja. Misalnya saat melakukan pemeriksaan
untuk penyakit lain, kebetulan terdeteksi ada kista pada ginjalnya. Menurut
Endang, jika kistanya besar akan diambil, tapi jika kecil akan dibiarkan selama
tidak menimbulkan masalah.
Bentuk kelainan/gangguan berikutnya adalah adanya sumbatan pada saluran kemih
akibat kelainan ginjal bawaan. Entah itu sumbatan antara saluran kemih dengan
ginjal ataupun saluran kemih dengan kandung kemih.
Kondisi ini biasanya terdeteksi kala anak mengalami infeksi saluran kemih.
Seseorang yang mengalami infeksi saluran kemih biasanya akan mengalami beberapa
gejala berikut, di antaranya perut bagian bawah sering terasa sakit, air seni
berwarna keruh, anyang-anyangan (kencing sedikit-sedikit disertai perasaan
tidak enak), sakit sewaktu buang air kecil atau keluhan lainnya, disertai demam
tinggi yang tiada kunjung mereda meski sudah diberi obat penurun panas.
Semua keluhan tadi, kata Endang, bila bisa teratasi dengan obat, berarti bukan
kelainan ginjal bawaan. Sebaliknya, jika sudah diobati tidak kunjung membaik
atau sembuh namun beberapa hari kemudian kambuh kembali, tidak bisa dipungkiri
lagi yang bersangkutan mengalami kelainan ginjal bawaan. Jadi, antara yang
bawaan dan bukan bawaan memang tipis sekali perbedaannya.
TAK MESTI OPERASI
Dalam kasus kelainan ginjal bawaan, penanganannya akan dilakukan secara
bertahap. Pertama, menangani komplikasinya dulu. Jika ada infeksi saluran
kemih, infeksinya akan segera diatasi sambil dicari terus apa penyebabnya.
Kedua, setelah penyebabnya ditemukan tentu langkah selanjutnya adalah tindakan
untuk menangani penyebabnya. Bila akibat sumbatan, tentu akan diupayakan untuk
menghilangkan sumbatan tersebut. Begitu juga kalau disebabkan oleh klep di
kandung kemih yang tidak baik, akan dibuatkan klep baru.
Demikian pula jika menemukan permasalahan lain. Yang pasti tidak selamanya
kelainan ginjal bawaan harus dituntaskan di meja operasi. Logikanya, bila masih
bisa ditangani dengan cara/terapi nonbedah, kenapa harus memilih jalur operasi
yang jelas-jelas tidak murah. Contohnya, masalah refluks akibat kurang
berfungsinya klep di kandung kemih.
Kelainan stadium 1 atau 2 biasanya bisa ditangani dengan obat. Selama proses
pengobatan diharapkan terjadi proses pematangan/penyempurnaan klep tersebut
secara alamiah. Nah, seiring bertambahnya usia anak dan selesai pula terapi
obat tadi, dokter akan mengevaluasi kembali.
Jika penanganannya terlambat dan kurang tepat hingga infeksinya menjadi parah,
besar kemungkinan anak akan mengalami gagal ginjal. Kalau sudah begini tidak
ada cara lain kecuali harus menjalani transplantasi ginjal atau cuci darah
(hemodialisis).
Baik dialisis yang dilakukan dengan bantuan mesin khusus di rumah sakit maupun
peritonial dialisis (cuci darah melalui perut) yang bisa dilakukan mandiri di
rumah secara berkala setiap beberapa jam sekali. Sebaliknya, jika sejak awal
mendapat penanganan cepat dan infeksinya segera diatasi, ke depannya anak
dengan kelainan ginjal dapat hidup normal tanpa keluhan apa pun.
informasi kesehatan penting lainnya
No comments:
Post a Comment